About Administrator

Nikita Willy

Nikita Willy
Namanya Nikita Willy. Dia tinggal di kompleks perumahan yang kujaga. Sebenarnya aku jarang melihatnya, hanya sesekali jika mobil yang ia tumpangi melewati pos jagaku ia sering mengangguk sopan kepadaku. Wajahnya yang luar biasa imut itu jika tersenyum selalu membuat jantungku berdebar-debar, padahal jika ditilik dari segi usia ia masih pantas jadi anakku (usia kami berselang 19 tahun).
Sebenarnya sejak pertama aku melihatnya, aku sudah berkeinginan untuk menggarap dia, tapi selalu kupendam karena  tidak ingin terlibat masalah. Namun pada suatu hari, ketika aku sedang berkeliling kompleks, aku berpapasan dengan Nikita. Dia waktu itu sedang jogging dengan mengenakan tank top dan celana super pendek yang mempertontonkan pahanya yang super mulus. Aku berpapasan dengannya dan ia tersenyum sambil mengangguk. Aku hanya bisa bengong dan melotot melihat kedua buah pantatnya yang berayun lembut ketika melewatiku, tanpa terasa air liurku mengucur deras. Ketika tersadar, aku segera berbalik hendak meneruskan berkeliling kompleks ketika menyadari bahwa dibelakangku berjejer: tukang listrik, tukang sayur, tukang kebun, tukang bakso, tukang somay, dan masih banyak lagi. Semuanya berjajar dengan mulut terbuka dan mata melotot kearah pantat Nikita yang masih berayun dan semakin menjauh.
“WOOYYY! Mangap semua! Busyet dah ngimpi di siang bolong lu pade, bubar, BUBAR!” Teriakku sedikit cemburu, dan sambil ngedumel pasukan mupeng itupun bubar semua.
Aku akhirnya tidak tahan lagi dan memanjangkan eh… membulatkan tekadku untuk menikmati tubuh mungil Nikita Willy. Berdasarkan “nasihat” dari blog favoritku yaitu Kisahbb.wordpress.com, cara paling ampuh dan aman untuk memperkosa artis, adalah dengan hipnotis atau gendam.  Akhirnya aku mendaftar jadi murid Romy Rafael supaya bisa menghipnotis Nikita, tapi baru beberapa kali pertemuan aku terpaksa berhenti, sebab tiap kali aku mencoba menghipnotis seseorang dengan berkata “Tatap mata saya” bukannya kehipnotis, orang itu malah ketawa terbahak-bahak, katanya wajahku kalau lagi melotot jadi mirip kingkong.
Hipnotis gagal, jadi ilmu pelet mungkin lebih berhasil. Aku pun bertanya-tanya sana sini hingga mendapatkan info mengenai dukun sakti yang bisa menurunkan ilmu pelet. Namanya adalah Mbah Kulnasi, katanya kalo pagi-pagi ia jualan nasi kuning , tapi jika malam tiba, ia adalah orang pintar dengan sejuta kesaktian dan suara semerdu Rhoma Irama. Ketika aku bertemu langsung dengan Mbah Kulnasi, aku sempat terkejut karena wajahnya ternyata mirip sekali dengan Raja Dangdut Rhoma Irama, lengkap dengan selendang tersampir dan senyuman semanis madu campur cuka.
“Hmmm jaddiiii, saudaraa mauu apaaa keesiinii” katanya panjang panjang, bahkan gaya bicaranya pun mirip bang Haji Oma.
“Gini Mbah Oma, ehh Mbah Kul, saya mau minta dipeletin seseorang” kataku.
“Hmmm susahhh itu, susahhhh. Kalo ngeliat wajah kamu yang udah lebih mirip gorila daripada manusia, ilmu peletnya mesti yang kuat banget. Satu-satunya cara, Mbah akan ajarkan kesaktian Mbah yang  dashyat, namanya ajian Kepala Kuda Geleng-geleng, tapi persyaratannya susahhh” katanya
Sialan! Gorila ngatain gorila! Tapi demi maksud dan  tujuanku, aku menahan amarahku.
“Apapun syaratnya akan saya penuhi Mbah” kataku.
“Kalo gitu, sediain darah ayam perawan ABG, empedu ular yang lagi patah hati, ama mata kanan monyet kidal,  trus kamu mesti puasa mutih 40 hari 40 malam, sanggup?” katanya.
“Waduh, syaratnya susah banget, apa nggak bisa diganti aja Mbah?” kataku.
“Yah kalo you nggak sanggup, tambah ongkos konsultasinya dua kali lipat ,  ntar you terima beres deh” Gaya bicaranya mendadak berubah menjadi mirip bussinesmen.
“Oke deh Mbah” kataku.
Mbah Oma, eh Mbah Kulnasi pun tersenyum puas dan mulai sibuk menyiapkan peralatan upacaranya. Sementara aku membayangkan seribu satu posisi bercinta yang akan aku praktekkan pada Nikita, begitu ia ada dalam pelukanku.
*******
Beberapa malam kemudian aku mendapat kesempatan emas. Orang tua Nikita beserta adiknya hendak keluar kota menjenguk kerabat dan memintaku untuk rutin check up keadaan rumahnya, mereka mengkhawatirkan putri kesayangan mereka yang terpaksa ditinggal bersama pembantu dirumah karena terbentur jadwal syuting sinetron yang cukup padat. He he he, kesempatan… kesempatan.
Malam yang ditunggu pun akhirnya tiba, di rumah itu hanya tinggal sang pembantu sementara Nikita masih belum pulang syuting. Akhirnya ketika jam dinding di pos jagaku menunjuk ke angka 11 malam, mobil Nikita memasuki kompleks perumahan, kali ini aku menghentikan mobil tersebut dan menghampiri pintu mobil.
”Bang Bonny, ada apa bang?!” Tanya Nikita.
“Nggak… eh gini, orang tua Non Niki kan lagi pergi, jadi… eh supaya Non Niki nggak khawatir saya bakalan sering-sering lewat rumah Non… kalau ada apa-apa Bang pasti menjaga Non Niki.” Kataku gugup.
“Oh iya, makasih Bang.” Katanya sambil tersenyum. Ia kemudian memberi isyarat pada si sopir untuk menjalankan mobilnya.
“Eh, tunggu-tunggu.” Kataku panik.
“Ada apaan lagi Bang?” Niki sedikit bertanya-tanya.
“Tatap mata saya dalam-dalam” kataku menirukan Deddy Corbusiat. Sambil melotot.
Akupun membisikkan mantra yang diajarkan Mbah Kulnasi.
“Dung dung Pret, dung dung pret, ada kodok disangka kampret, sekali ngeliat pasti kepelet, phuaahh” kataku dalam, dipenuhi nada-nada magis.
Nikita memandang mataku, pandangannya langsung terasa kosong, seperti melamun. Horee ini pasti efek dari mantraku, senyum juara pun langsung terukir di moncong, eh mulut ku.
“Apaan sih?! Mau ngelawak apa lagi stress bang?! Udah ah, Niki mau istirahat dulu,capek.” katanya sambil sedikit melotot dan menyuruh supirnya untuk menjalankan mobil.
Mobil itu pun berjalan melewatiku sambil terdengar desisan samar-samar dari mulut Nikita “Sinting!”
Aku terbengong. Mantra nya yang gak mempan, apa emang cuma akal-akalan aja? Walah dasar dukun gilaaa! Ngelayang percuma dah duitku. Aku segera mengeluarkan ponselku dan menelpon si dukun gadungan itu. RBT lagu Cinta Laura pun terdengar, “Oh baby, baby, baby…” (singing mode).
“Halloo, siapa nih?”
“Bang Dukun, ini Bonny.”
“Bonny siapa ya?”
Sialan ni dukun, pake acara insomnia, eh amnesia segala.
“Bonny Boneng Bang.”
“Oh, Bonny Gorilla…” KAMPRET!
“Bang dukun, mantra dari situ nggak bekerja nih, pokoknya kalau nggak ampuh saya minta duit saya dibalikkin!”
“Eits tunggu dulu, enggak ada refund, barang I dijamin asli and ampuh. You kali yang salah baca mantra.”
“Kagak, saya yakin bener kok.”
“Ehmm, tunggu. Coba You kirimin foto cewek yang you tuju.”
Tanpa banyak cingcong aku mengirimkan foto Nikita yang beberapa hari lalu kuambil secara sembunyi-sembunyi. Sesudah itu aku kembali menelepon si Oma, eh si dukun.
“Halah, pantesan aja nggak tokcer. Ceweknya cakep gini, kelas tinggi ini mah. Mesti pakai pelet level advance.”
“Lah terus gimana bang?”
“Tenang, I bisa melet dari jauh pake foto ini. Tapi, efeknya Cuma bisa sampai besok tepat jam 12 siang, abis itu dia bakalan sadar.”
“Lah gimana nih, cepet amat…”
“Mau gak? Kalau gak mau ya udah, tapi uang you gak balik lagi.”
Setelah berpikir sejenak akupun menjawab, “Ya udah deh Bang. Tapi abis dia sadar terus gimana? Apa saya mesti kabur?”
“He he, gampang itu. Abis dia sadar, dia gak bakalan inget semua kejadian sebelumnya, jadi you aman.”
“Sip deh kalau begitu, cepetan yah Bang.”
“Tenang aja, you tunggu di depan rumah dia, nanti I suruh dia bukain pintu buat you pake bisikan gaib.”
Hubungan pun diputus dan aku terpaksa menunggu didepan rumah Nikita di tengah dinginnya malam.
Sepuluh menit, duapuluh menit, empatpuluh menit, hingga hampir satu jam aku menunggu tapi tidak ada kejadian apa-apa. Sialan, apa si dukun itu menipuku lagi? Aku geram dan hendak meneleponnya kembali, tapi tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka, dan pintu gerbang rumah itu pun dibuka oleh   sesosok tubuh mungil. Niki! Malam itu ia memakai kaus ekstra large yang menutup hingga ke separuh paha, tidak terlihat apakah ia memakai celana atau tidak.
“Eh Bang Bonny, lagi ngapain?” Suara dan ekspresi wajahnya terdengar dan terlihat biasa, tapi ada yang aneh pada sorot matanya, sedikit menerawang. Pasti akibat pengaruh ilmu si dukun pelet.
“Eh Non Niki, kan Abang lagi jagain rumah Non. Takut ada maling atau rampok.”
Aku berdiri sambil menggigil kedinginan, karena lupa memakai jaket.
“Oh kasihan, dingin ya Bang? Kalau gitu masuk dulu deh, ntar Niki siapin kopi buat temen ngeronda.”
Tanpa menunggu jawabanku, Nikita berbalik dan berjalan memasuki rumah. Aku celingungkan sebentar sebelum akhirnya mengikutinya masuk ke dalam rumah dengan tergopoh-gopoh. Baru kali ini aku melihat bagian dalam rumah Nikita, aku melihat kiri-kanan, tapi dia tidak terlihat jadinya aku hanya berdiri saja di ruang tamu. Ruangan itu, tidak terlalu terang memang karena memang lampunya tidak dinyalakan, sehingga sumber penerangan yang ada adalah dari lampu di ruang tengah dan teras.
“Duduk Bang.” Niki akhirnya datang sambil membawa baki dengan cangkir yang mengepulkan asap.
“Oh, iya Non.” Aku lalu duduk sementara Niki meletakkan cangkir berisi kopi tersebut di atas meja dihadapanku. Ia lalu duduk diatas sofa dengan lutut terlipat depan dada, sehingga pangkal pahanya yang putih mulus jelas terlihat, rupanya ia hanya memakai celana dalam saja!
“Lho kok bengong? Ayo diminum kopinya.”
“Eh iya, makasih.” Aku gelagapan karena Niki jelas-jelas memergokiku sedang memelototi pahanya.
”Non Niki, eh anu, kok nggak pake celana? Apa nggak kedinginan?”  Aku sedikit memancing untuk memastikan bahwa dia memang sudah terkena ajian dukun Oma.
“Oh ini, iya aku kalau tidur emang sukanya begini, bebas. Tapi nggak tahu kenapa malem ini susah banget tidur. ” katanya sambil tersenyum.
Senyum yang mengembang di bibir mungil Niki membuat wajahnya yang cantik dan imut tambah mempesona. Sejenak aku terpesona, suasana remang-remang yang cukup romantis ini, ditambah wangi tubuh Niki yang menyergap hidungku, semuanya membuat jantungku berdebar-debar gak keruan, hasratku untuk menikmati tubuh Niki pun mulai tak terkendali. Aku berpindah duduk ke sebelah Nikita. Aku sudah tidak peduli lagi apakah dia memang dibawah pengaruh mantra atau tidak, jika tidak pun aku akan memperkosanya dengan paksa, habis perkara.
Aku langsung menyergap dan menindihnya,  payudara Niki yang masih tertutup kaus menempel ketat ke dadaku, sementara salah satu lenganku menekan bahu dan yang lain membekap mulutnya. Wangi tubuh Niki kembali menyegapku, kali ini lebih keras. Niki memekik kaget tapi tertahan oleh tanganku yang menutupi mulutnya, tubuh mungilnya meronta-ronta, tapi tentu saja bukan tandingan buat tubuh gorilaku yang tinggi besar. Karena rontaannya  tidak berhasil ia akhirnya berhenti, kedua matanya menatap nyalang kearahku, sementara semburat marah memenuhi seluruh wajahnya yang justru menambah pesona kecantikan wajah belianya.
“Maafin  Abang ya Non Niki…” kataku sedikit menggumam.
Tanganku yang tadinya menahan bahunya,  kiniperlahan merayap kebalik kaus Niki dari bawah sekaligus menyingkapkannya hingga keatas. Jemariku  mencoba mencari  bra Niki, tapi rupanya ia juga tidak memakai Bra! Akibatnya sudah jelas, tanganku langsung menangkup benda kenyal di dadanya. Niki kembali meronta-ronta, tapi anehnya rontaannya begitu lemah, satu tangannya telah bebas tapi ia tidak berusaha mendorong atau mencakarku, hanya sedikit memukul-mukul punggungku saja, sama sekali tidak sakit; aneh.
Tanpa memperdulikan perlawanannanya, telapak tanganku langsung meremas-remas payudaranya. Payudara Niki yang berukuran tidak beitu besar jelas terasa kencang dan kenyal, namanya juga payudara remaja yang belum terkena polusi, sesekali ibu jari dan telunjuku memilin-milin puting susunya yang sepertinya cukup menonjol, dan  hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat. Aku juga menciumi lehernya yang begitu halus, menghisapnya hingga dia menggelinjang dan erangan tertahan mulai keluar dari mulutnya.
Pandangan mata Niki berubah sayu, dan rontaannya telah berhenti total. Aku menimbang sejenak dan akhirnya dengan perlahan melepaskan bekapan tanganku pada mulutnya… tidak ada jeritan atau makian yang keluar.  Mata indahnya menatapku dalam-dalam kami pun bertatapan sejenak. Perlahan-lahan aku mendekatkan wajahku, dan segera kulumat bibirnya yang empuk dan terasa lembut sekali, hingga kugigiti perlahan. Lidahku juga mulai menggeliat ikut meramaikan suasana, dan menyelusup masuk kedalam mulutnya melalui celah yang terbuka, tak kuduga Niki menyambut dengan hangat kehadiran lidahku, ia mempertemukan lidahnya dengan milikku dan langsung kupijati lidahnya dengan lidahku. Kujilati seluruh rongga mulutnya sepuas-puasnya, lidahnya kusedot, Niki pun mengikuti caraku, sehingga tak lama kemudian sekeliling mulut kami agak belepotan dengan dengan air liur.
“Ehmm, tunggu… tunggu dulu.” Niki sedikit mendorong dadaku hingga aku menghentikan lumatanku pada bibirnya. Sejenak aku terkejut, jangan-jangan pengaruh mantranya sudah hilang.
“Kita pindah yuk. Takutnya si mbok keluar, ntar ketahuan.”
Aku pun tersenyum dan bangkit berdiri sambil membantu Niki untuk bangkit pula. Tanpa melepaskan tanganku, Niki menarikku untuk terus masuk kedalam kamarnya. Kamarnya sedikit kekanakkan karena penuh boneka, dan bed cover-nya pun bermotifkan Tweety. Setelah masuk kedalam kamar, Niki mengunci pintu kamarnya, lalu duduk di pinggir tempat tidurnya yang empuk. Aku segera berlutut didepannya dan karena perbedaan tinggi kami yang cukup jauh,kepala kami justru malah sejajar.
Aku meraih ujung kaus yang ia pakai dan menariknya keatas. Niki mengangkat tangannya hingga memudahkanku menarik kaus itu hingga lepas, memperlihatkan kedua payudara muda berukuran sedang yang begitu mengkal dan menggoda, aku menahan nafas sejenak, Kulitnya yang putih bersih dan halus, tampak bercahaya. Batang kemaluanku seketika berdenyut-denyut dan mulai mengeras. Sebuah pemandangan yang merangsang, payudara indah milik seorang artis muda yang super imut.
“Hi hi,ngeliatin apaan sih? Sampai segitunya.” Ia menggodaku
Mendengar itu aku langsung tersadar dan meneruskan seranganku. Kedua tanganku langsung menangkup payudara yang telah terbebas dari halangan tersebut, dan dengan lembut memijat dan meremas payudara yang halus kenyal milik Niki. Rangsangan pada payudaranya membuat puting susu Niki mengeras dan mengacung, warnanya kini kemerahan, ia telah terangsang berat. Untuk beberapa lama, aku terus meremas remas payudara itu, terkadang memuntir-muntir putingnya, sambil tidak lupa menciumi mulut, bahu, dan leher Niki.
Ciumanku kini turun hingga ke puncak dadanya. Lidahku menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum akhirnya menghisapnya dengan gemas sampai pipiku kempot. Kugigit-gigit perlahan dan kumainkan dengan lidahku. Sementara satu tanganku memilin-milin ujung dadanya yang satu lagi. Aku lalu mengecupi dan menyedot kuat-kuat permukaan payudaranya, hingga merintih dibuatnya. Entah sadar atau tidak, tangannya meremas dan menarik kepalaku sehingga semakin terbenam di kedua gunung kembar yang putih dan padat itu.
Tanganku yang satu lagi mulai bergerilya menyusuri pahanya, sedikit meremas-remas merasakan lembut dan halusnya daerah itu, terus hingga akhirnya tanganku  menyentuh ujung celana dalamnya lalu bergeser sedikit lagi ke tengah. Celana dalamnya terasa sudah lembab. Tanganku menemukan gundukan lunak yang erotis dengan belahan tepat ditengah-tengahnya. Aku tak kuasa menahan gejolak hati lagi, kuremas gemas gundukan itu. Niki memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya. Aku lalu menyusuri belahan tersebut dari luar dengan jariku, naik-turun dengan perlahan. Erangan pun keluar dari mulut Niki sambil semakin melebarkan pahanya,mempersilahkanku untuk menjelajahi daerah itu sepuasku.
“Hsss…, oh!”
Akhirnya tanganku  menyusup kebalik celana dalam itu, dan merayap mencari liang yang ada di selangkangan Niki. Dan ketika menemukannya Jari-jari tanganku mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa basah,  jari-jariku menyusuri belahan pada bukit kecil itu. Susuran jariku  di sepanjang belahan vagina itu perlahan semakin dalam dan dalam, hingga akhirnya bergerak masuk, menusuk kedalam liangnya. Masih amat sempit, kedua jariku hampir tidak bisa masuk, namun dengan perlahan, sedikit demi sedikit, kedua jari itupun sedikit menembus liang vagina yang masih perawan itu, merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.
“Ahhh.. Ahhh..” hanya suara erangan yang muncul dari bibirnya.
Ketika tanganku menggosok klitorisnya, tubuh Niki bergetar pelan, sementara itu batang kejantananku seperti akan meledak menahan tekanan yang demikian besarnya. Aku lalu mendorong jari-jariku untuk masuk lebih jauh perlahan-lahan, lalu menariknya keluar, lalu mendorongnya masuk kembali, begitu seterusnya dan semakin lama semakin cepat. Rintihan Niki makin keras, ia bahkan mengalungkan kedua lengannya ke leherku, menarik wajahku mendekat dan melumat bibirku dengan buas.
Batang kejantananku sudah membengkak maksimal  dan tak tahan lagi, maka aku segera berdiri dan kulucuti bajuku hingga tinggal tersisa celana dalam saja. Dan ketika kutanggalkan celana dalamku, sekilas aku melihat Niki mendelik bahkan melotot melihat batang penisku yang sudah berdiri tegak. Entah apa yang ada dipikirannya, mungkin takjub melihat penisku yang hitam dengan kepala yang membulat keunguan. Ukurannya sebenarnya nggak gede-gede amat, cuman 13 cm kok, tapi diameternya emang tebel dan dilingkari urat yang gede-gede.
Setelah aku telanjang bulat, pelan-pelan tubuh Niki kurebahkan ke atas ranjang dan tanpa ragu lagi kupelorotkan celana dalam Niki tanpa perlawanan, bahkan ia sedikit menaikkan pantatnya untuk membantuku meloloskan celana dalamnya. Pemandangan indah langsung terpampang didepanku. Vagina gadis belia yang masih rapat, belahannya yang tipis ditumbuhi rambut halus yang masih jarang. Bukitnya yang besar putih sekali. Dan ketika kutekuk lutut Niki lalu kubuka kakinya, tampak bibir kemaluannya masih bersih dan sedikit kemerahan warnanya.
Segera saja aku menindih dan mencumbuinya sambil  kutuntun batang kejantananku ke arah liang kewanitaan Niki. Liang vaginanya yang telah kebanjiran seharusnya memudahkan batang penisku menyelinap ke dalam. Kusodok pelan-pelan tapi tidak mau masuk-masuk, aku sodok lagi terus hingga dia pun merintih rintih, “Ahh…, aahh…”,
Akhirnya aku rasakan kepala penisku menerobos belahan vaginanya, tapi baru kepalanya saja rintihan Niki sudah berubah jadi jeritan tertahan, tapi aku sudah tidak peduli lagi. Sedikit-sedikit kudorong maju, mundur sedikit, maju lagi, mundur, maju, mundur. Lalu dengan satu hentakan yang keras aku sodok kuat-kuat hingga aku rasakan batang penisku amblas hampir seluruhnya kedalam liang vagina Niki. Jeritan Niki pun tak tertahankan.
“Baanngg! Saakiiitt!”
Niki pun meronta berusaha mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya. Namun aku segera menindih tubuhnya dan memegang kedua tangannya, hingga ia tak berkutik. Aku berusaha menenangkannya  dan berkata “Tahann.. Non… cuman sebentar kok…”
Aku menikmati jepitan vaginanya yang keras sekali, batang penisku seperti diremas-remas rasanya di dalam kewanitaannya. Aku lalu melumat bibir indah Niki untuk meredam rintihan yang keluar. Sejenak yang terdengar dalam ruangan itupun hanya erangan dan rintihan yang tersumbat.
“Non, Abang genjot yah” kataku kemudian.
Niki hanya mengangguk, lalu aku pun mulai “bekerja”, penisku kutarik pelan-pelan  lalu majukan lagi tarik lagi, majukan lagi.
Niki pun mengernyit kesakitan, dan mendesis keras, “Aahh…, ahh…, ahhkkhh…”
Penisku yang bergerak keluar masuk liang vaginannya itu dengan perlahan, terasa sangat nikmat sekali seakan-akan aku lagi berada di suatu tempat yang dinamakan surga.
“Enak non?”, kataku. Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, “Aahh…, aahh…”
Akupun menambah daya dobrakku dan kini menggenjotnya dengan brutal. Erangan Niki pun berubah jadi jeritan.
“Maanng! pelan-pelan! Sakiit” erangnya
Tapi aku kurang menghiraukan jeritannya. Kenikmatan yang tak ada duanya telah merasuki tubuhku. Dengan tetap menjaga irama permainanku maju-mundur dengan perlahan. Menikmati setiap gesekan demi gesekan. Liang vagina itu sempit sekali hingga setiap berdenyut membuatku melayang. Denyutan demi denyutan membuatku semakin tak mampu lagi menahan luapan gelora persetubuhan. Terasa beberapa kali Niki mengejankan liang vaginanya, mungkin menahan rasa sakit dari serbuan benda asing yang bergerak keluar masuk dengan buas itu, tapi bagiku malah memabukkan karena liang vaginanya jadi semakin keras menjepit batang kejantananku.
Erangan, rintihan, dan jeritan Nikita terus menggema memenuhi ruangan. Rupanya ia pun menikmati setiap gerakan batang kejantananku. Rintihannya mengeras setiap kali penisku melaju cepat ke dasar liang vaginanya, dan mengerang lirih ketika kutarik batang kejantananku. Beberapa menit kemudian aku mencabut penisku dan menyuruh Niki untuk berbaring miring. Aku lalu ikut berbaring miring dibelakangnya dan mengarahkan penisku dari belakang dan  batang penisku kembali mengocok vaginanya yang kini terasa licin akibat cairan pelumasnya yang semakin membanjir keluar.  Penisku keluar masuk perlahan-lahan namun semakin lama gerakanku semakin liar, kupercepat kocokanku  hingga tubuhnya terguncang-guncang akibat sodokanku. Sesekali kuputar-putar gerakan pinggulku seolah-olah sedang mengaduk-ngaduk isi vagina Nikita.
Aku melihat mulutnya terbuka disertai erangan tertahan “Errghhh….” Tubuhnya meliuk-liuk binal menyambut gerakanku. Hingga sekitar 10 menit kemudian Niki melengking panjang  dan tubuhnya bergetar hebat, dan kurasakan air hangat menyempot keluar dari dalam vagina Niki. Denyutan-denyutan yang kuat memberikan sensasi tersendiri pada kemaluanku yang masih asik keluar masuk dengan kasar didalam lubang vagina hangat milik Niki, hingga akhirnya aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku meremas payudaranya dengan keras hingga Niki menjerit pelan, dan meledaklah cairan spermaku didalam liang vaginanya. Batang kejantananku menghujam keras, dan kandas di dasar jurang, sebuah kenikmatan tanpa cela, sempurna.
*******
Nikita dan aku tertidur tanpa sehelai benang pun hingga pagi hari. Ketika aku bangun, ia masih terlelap, aku pun bengong melihat badan mungilnya yang telanjang terbaring di sebelahku,  begitu mulus dan indah, he he he benar-benar mimpi jadi kenyataan. Bagai seorang bocah kecil aku mengelus-elus dadanya, terutama puting payudaranya yang berwarna kemerahan, kutekan dan sedikit kupuntir.
Niki menggeliat tapi matanya tetap terpejam. Aku meneruskan gerilyaku, dan menyusuri perutnya dengan jariku turun terus hingga mencapai daerah yang kutuju. Tanganku mempermainkan lubang vagina Niki, kucari-cari daging kecil yang ada disana dan dengan lembut kugosok daging kecil itu. Gerakanku ini akhirnya membuat pemiliknya terbangun. Ia menatapku sejenak, lalu kearah tanganku yang masih menggosok-gosok vaginanya, dan lalu tersenyum.
“Ihh Bang Bonny, pagi-pagi udah mainin punya aku.” Katanya imut.
“Abisnya gemes sih Non. Non mau saya berhenti.” Kataku sambil sengaja menambah cepat gosokanku.
“Nggak… jangan… terusin aja Bang.” Dadanya mulai turun naik karena nafsu.
Aku pun meneruskan permainan jariku hingga membuatnya berkali-kali merintih tersentak keenakan. Tidak lupa aku menciumi dadanya yang kembang kempis, mula-mula perlahan lalu berubah menjadi jilatan-jilatan liar keseluruh tubuhnya yang menguarkan wangi alami tubuh seorang gadis remaja. Aku bisa merasakan tangannya yang mungil meraih batang kemaluanku lalu mempermainkannya  dengan tangannya yang halus. Desah nafas seperti tadi malam kembali terdengar dari bibirnya yang mungil, sementara  badannya menggeliat-geliat menahan nikmat.
Tidak lama kemudian ia mendorong tubuhku dan memaksaku berbaring. Ia lalu membalikkan badannya dan menindih tubuhku, posisi 69. Tangan yang sebelumnya memegang batang kemaluanku, kini memegang liang kewanitaannya sendiri sambil. Aku bisa melihat dengan begitu jelasnya bagaimana dia mempermainkan klitorisnya di depan wajahku, wangi yang khas dan cairan bening pun membasahi liang senggamanya.
Desah nafas dan gerakannya menjadi begitu brutal dan tidak terkendali, sambil memegang batang penisku,  Nikita kemudian  menempelkan vaginanya pada bibirku, memintaku untuk menjilatinya, yang tentu saja kulakukan dengan senang hati.
Kurasakan tangannya yang mungil kembali memegang kemaluanku sampai kemudian kurasakan kehangatan mulutnya yang basah. Tanpa kusuruh Nikita telah menarik batang kemaluanku dan menghisapi dan mengocok-ngocok batang kemaluanku. Lidahnya bergerak lincah, tidak hanya turun naik tapi juga menjilati lingkar penisku hingga mencapai ujung kepalanya, disana lidah itu dengan nakal menggelitik lubang kencingku dan menggaruknya dengan ujung lidahnya. Luar biasa geli tapi nikmat. Entah darimana ia belajar menservis seperti ini.
Nikita mengulum kemaluanku dengan begitu liar dan bersemangat, jadi akupun memperhebat jilatan dan hisapanku, sambil sesekali menggigit pelan clitorisnya yang berada tepat dibibirku. Respon yang kuberikan menjadikan Nikita menjadi begitu bersemangat, hingga rasanya hampir seluruh batang kemaluanku habis ditelannya.
Untuk beberapa saat, hanya dengusan dan desahan saja yang terdengar di dalam kamar itu…
********
Sambil terbaring diatas kasur yang empuk, aku menatap langit-langit kamar itu. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri membayangkan bahwa semalaman dan barusan, aku baru saja memerawani dan menggarap habis-habisan tubuh seorang artis super imut n cantik yang masih belia. Jika kuceritakan pada orang, pasti tidak akan ada yang percaya pada ceritaku.
Aku mendengar pintu kamar mandi terbuka, dan Nikita melangkah masuk. Ia baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah dan tubuhnya yang putih mulus hanya berselimutkan handuk yang hanya menutup sebatas paha. Sejenak ia berhenti dan membungkuk untuk memungut kaus yang semalam ia pakai dan kulemparkan begitu saja ke lantai. Saat ia membungkuk, handuk yang ia pakai langsung terangkat dan karena ia membelakangiku, langsung terlihat buah pantat yang membulat padat, sempurna. Aku pun bersiul pelan, dan Niki yang mendengar siulanku lalu menoleh dan tersenyum.
“He he, mau lihat? Niihh.” Katanya menggoda sambil mengangkat ujung handuknya, hingga terbukalah semuanya.
Anehnya meski semalaman; bahkan baru saja aku menikmati tubuhnya, tetap saja begitu disuguhi pemandangan seindah ini, nafsuku langsung bangit kembali. Aku bangkit dan hendak menerkam tubuh mungilnya, tapi ia menghentikanku.
“Eiitt, mau apa? Nanti dulu. Bang Bonny mandi dulu gih. Niki mau siapin sarapan dulu buat kita. Abis itu baruu…” Katanya.
“He he, oke deh. Buat Non, apa sih yang nggak.” Aku langsung bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku.
Ketika aku selesai, Nikita sudah tidak ada di kamarnya, jadi aku keluar dan mendapatinya sedang duduk di meja makan yang dihiasi oleh gelas-gelas berisi susu kopi, roti bakar, dan buah-buahan untuk sarapan. Niki memakai kaus ekstra large yang semalam ia pakai, lagi-lagi hanya berlapiskan celana dalam, waduh mana bisa konsentrasi sarapan kalau dikasih “hidangan” yang lebih menggoda kayak gini?
“Sarapan dulu Bang. Maaf Niki nggak bisa nyiapin yang aneh-aneh, gak bisa masak soalnya.”
“He he, nggak apa-apa, segini juga udah cukup. Eh si Mbok Yem kemana Non?” Kataku sambil celingukan, aku lupa soal keberadaannya. Jangan sampai aku kepergok berkeliaran didalam rumah sambil telanjang dada seperti ini.
“Tenang Mbok Yem sudah aku suruh belanja yang lama. Masih lama kok baliknya. Ayo dimakan Bang.”
“Eh, iya.” Akupun melahap hidangan yang ada didepanku, sambil mengobrol kecil dengan Nikita.
Setelah selesai, aku membantu Niki membersihkan meja sementara ia mencuci piring dan gelas yang baru kami pakai. Melihatnya berdiri membelakangiku seperti ini, nafsuku timbul kembali. Aku mendekati dan mendekapnya dari belakang, kedua tanganku lalu langsung menangkup dan meremas-remas payudaranya, sementara mulutku menjelajahi lehernya yang terbuka. Nikita melenguh pelan lalu memiringkan kepalanya untuk memberiku ruang mengecupi leher dan tengkuknya yang dihiasi rambut-rambut halus dan wangi.
Tiba-tiba timbul ide bejat dalam benakku. Aku menarik kaus yang ia kenakan hingga lepas, lalu mengulum telunjukku hingga cukup basah dan menurunkan tanganku menyelinap hingga kebalik celana dalam yang Nikita kenakan. Aku menyusuri belahan pantatnya hingga menemukan apa yang kucari, mulai ku usap-usap liang anusnya sambil tidak melepaskan jilatanku pada lehernya, kumasukkan telunjukku perlahan pada lubang anusnya, terdengar geraman nikmat dari dirinya tanda dia menikmati permainanku. Hampir separuh telunjukku masuk kedalam anusnya, badannya bergetar hebat diiringi lenguhan nikmat.
Aku menyuruhnya menungging dan langsung memerosotkan celana dalamnya. Dalam posisi menungging seperti itu aku dapat melihat dua buah lubang yang merekah.  Yang satunya adalah lubang vagina yang baru kemarin malam kuperawani, sedangkan yang satu lagi masih belum terjamah.
Aku sudah benar-benar kehilangan kontrol, kusuruh dia tetap pada posisinya dengan pantatnya siap untuk digarap. Penisku dengan diameternya yang cukup besar hampir, kuarahkan pada lubang anusnya yang berada dihadapanku. Terasa seret tapi tetap kupaksakan, tubuhnya bergetar hebat ketika usaha kerasku mulai membuahkan hasil, Niki pun mulai menggigit bibirnya ketika kepala kemaluanku mulai melesak masuk kedalam lubang anusnya.
Nafasnya terengah-engah, dan butir-butir keringat mulai menghiasi wajah dan tubuhnya, membuatnya berkilauan dengan indah. Dengan sekali sentakan kuat kusodokkan penisku mencoba membobol lubang anusnya, akhirnya masuk juga biarpun baru ujungnya.
“Arghh… ” Niki mengeluarkan erangan tertahan, matanya mendelik, dan mulutnya terbuka lebar, mencoba menahan rasa sakit dianusnya.
Erangan mulai berubah menjadi isakan ketika kusodok-sodokkan kemaluanku dengan kuat berusaha memasuki lubang anusnya  yang terasa hangat dan seret.
“Banggg, pelan-pelan… oohhh …owwhh” Niki merintih.
Terus terang aku kasihan juga melihatnya, maka untuk sedikit meringankan penderitaannya, tanganku mulai meraih clitorisnya dan menggosoknya perlahan. Rintihan Niki pun terhenti.
Setelah beberapa saat, aku meraih pinggulnya dan kutarik hingga kemaluanku semakin dalam memasuki lubang anusnya.  Kepala Niki terangkat keatas, matanya terpejam rapat, kedua tangannya bertumpu pada bak cuci didepannya. Tubuhnya berkali – kali merinding dan bergetar ketika kemaluanku semakin menerobos masuk dan akhirnya amblas dengan sempurna kedalam lubang anusnya.
Aku menggerakan pantatku dan rasa enak langsung menyerbu ketika kemaluanku keluar masuk lubang anusnya yang seret.  Satu tanganku bergerak memelintir-melintir dan menarik-narik puting susu Nikita yang kini mengeras, sementara yang satu lagi, menggesek-gesek clitorisnya dengan jempolku. Niki kini bergerak-gerak dengan liar, pinggulnya berputar cepat seakan meminta lubang anusnya untuk semakin diaduk-aduk oleh penisku.
Seranganku pada anusnya ditambah serbuan jempolku yang semakin kuat menggesek-gesek clitorisnya mengantar Niki kepuncak orgasmenya.
”Akhhhhh… Baanngg… “
Ekspresi wajahnya tampak begitu indah ketika badai kenikmatan menghantam dirinya, tubuhnya bergetar dan terkejang-kejang. Dengan tenaga yang masih tersisa, aku mempercepat genjotanku hingga tak lama kemudian aku mencapai klimaksku.
“Arghh Non Nikiii…” dengan sekuat tenaga aku meremas payudaranya yang menggantung, hingga Nikita sempat menjerit kesakitan.
Tubuhku tersentak-sentak sedangkan lututku terasa lemas seperti mau jatuh, tapi rasa nikmat yang menyerang seluruh tubuhku ini sungguh luar biasa. Kubiarkan spermaku muncrat  di dalam lubang anusnya, lagi-lagi kenikmatan sempurna.
Aku mencabut penisku dari lubang anusnya yang tampak memar akibat kusodomi, kusentuh lingkaran anusnya perlahan.
“Nhhh…” Niki menggerakkan pantatnya, sepertinya ia merasakan perih. Aku hanya tersenyum sadis melihatnya.
*******
Jam tanganku menunjukkan pukul 11 siang ketika meninggalkan rumah si artis cantik Nikita Willy. Sebenarnya aku ingin tahu juga seperti apa reaksinya ketika pengaruh mantra si mbah dukun akhirnya menghilang. Mungkinkah ia akan lupa semuanya? He he, tapi bukti persetubuhan telah tersebar luas di seluruh kamar dan tubuhnya. Ia mungkin akan mengingatnya sebagian, tapi lupa siapa pelakunya. Entahlah, aku sedikit berdebar memikirkannya. Tapi biarlah, gimana nanti saja, yang penting keinginanku sudah terpenuhi, dan aku pun meninggalkan rumah itu dengan senyum lebar di wajahku.

Catalog